Menuju Bintang
Kirana adalah kebanggaan sekaligus kekhawatiran satu-satunya bagi Aminah. Sejak suaminya pergi tanpa kabar enam tahun lalu, Aminah membanting tulang seorang diri. Kirana tumbuh menjadi anak yang pendiam tetapi memiliki api besar di dadanya. Api itu bukan amarah, melainkan tekad.
“Bu, aku akan membawa Ibu ke gerbang kampus,” ujar Kirana suatu malam, saat mereka berbagi sepiring jagung rebus di bawah lampu minyak. Listrik di rumah mereka sering padam, dan malam itu adalah salah satunya.
Aminah hanya tersenyum sambil mengusap lembut rambut Kirana yang ikal dan kasar karena jarang menggunakan kondisioner. “Cukup Kirana bisa sekolah sampai lulus SMA, Ibu sudah senang.”
Kirana menggigit bibirnya. Dalam hatinya, itu tidak cukup. Ia ingin ibunya berhenti berjualan, ingin ibunya bisa duduk di teras sambil minum teh hangat tanpa harus memikirkan setoran modal besok. Dan Kirana tahu, satu-satunya jalan adalah melalui sekolah.
Perjuangan di Kelas dan di Rumah
Kirana bersekolah di salah satu SMA negeri favorit di Kota Dingin. Ia masuk bukan karena les mahal atau bimbingan privat, tetapi karena ia selalu menjadi peringkat pertama sejak SD, dan nilai ujian nasionalnya masuk dalam 10 besar se-Kota Dingin.
Namun, menjadi anak pintar di sekolah favorit bukan berarti mudah. Kirana harus bersaing dengan anak-anak dari keluarga mampu yang memiliki akses ke buku-buku referensi terbaru, bimbingan belajar, dan fasilitas memadai. Kirana hanya punya buku pinjaman dari perpustakaan sekolah yang sering kali harus ia perpanjang masa pinjamnya karena belum sempat membaca semuanya.
Setiap hari, Kirana bangun pukul 03.30 pagi. Bukan untuk belajar, tetapi untuk membantu ibunya meracik adonan tahu isi, bakwan, dan pisang goreng. Diam-diam, ia sudah pandai memotong tahu tipis-tipis agar bisa digoreng lebih banyak, mencampur tepung dengan takaran yang pas agar renyah, dan mengatur api kompor minyak tanah agar tidak membuang-buang bahan bakar.
Pukul 05.00, ia membantu ibunya mendorong gerobak ke tempat langganan di depan pasar. Setelah itu, ia berlari kecil menuju sekolah yang berjarak tiga kilometer. Sepatu sekolahnya sudah tipis solnya, dan beberapa kali ia harus menambal dengan lem sepatu murah yang dijual di pinggir jalan.
“Ran, kamu kok nggak beli sepatu baru? Udah bolong tuh,” tegur sahabatnya, Dinda, suatu hari.
Kirana hanya tersenyum. “Masih bisa ditempel, Din.”
Dinda tahu kondisi Kirana. Diam-diam, Dinda sering meminjamkan buku catatan tambahan dan mengajak Kirana belajar bersama di perpustakaan kota yang ber-AC, tempat Kirana bisa menikmati udara dingin dan lampu terang tanpa harus memikirkan tagihan listrik di rumah.
Rintangan yang Tak Terduga
Di tengah kesibukan sekolah dan membantu ibunya, Kirana juga aktif di klub olimpiade sains sekolah. Gurunya, Pak Budi, melihat potensi besar dalam diri Kirana. “Kamu punya nalar yang tajam, Ran. Ikut seleksi olimpiade tingkat provinsi. Kalau menang, ada peluang beasiswa.”
Kirana terdiam. Olimpiade berarti persiapan intensif, jam tambahan di sekolah, dan biaya transportasi serta konsumsi selama lomba. Ia tahu ibunya sudah kewalahan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, Pak Budi meyakinkannya bahwa panitia menyediakan akomodasi bagi peserta yang kurang mampu. “Urusan biaya, kita cari jalan,” ucap Pak Budi tegas.
Kirana pun mulai menggeluti soal-soal olimpiade fisika. Setiap malam, ia belajar di bawah lampu minyak, sesekali menangis pelan saat matanya perih karena asap. Namun, ia selalu ingat wajah ibunya yang mulai tampak keriput sebelum waktunya, tangan yang kasar karena sering terkena minyak panas, dan punggung yang mulai membungkuk karena mendorong gerobak.
“Aku harus menang,” bisiknya.
Namun, ujian terbesar datang ketika menjelang babak semifinal. Ibunya jatuh sakit. Dokter di puskesmas mengatakan Aminah kelelahan dan kekurangan gizi. Kirana harus membagi waktu antara merawat ibunya, berjualan gorengan, dan belajar. Ia sempat berpikir untuk mundur dari olimpiade.
“Jangan berhenti, Ran,” kata Aminah dengan suara parau di atas kasur tipis mereka. “Ibu nggak apa-apa. Ini kesempatan kamu.”
Kirana memeluk ibunya dan menangis dalam diam. Malam itu, ia tidak tidur sama sekali. Ia belajar di samping ibunya sambil sesekali mengecek kondisi ibunya. Setiap kali ia ingin menyerah, ia melihat foto ibunya saat muda yang masih tersenyum lebar—sebelum kehidupan menjadi sekeras ini.
Momen yang Menentukan
Hari final olimpiade fisika tingkat provinsi tiba. Kirana tiba di lokasi lomba dengan seragam yang sedikit longgar karena badannya kurus, tetapi matanya bersinar tajam. Soal demi soal ia taklukkan dengan perhitungan cermat. Ia tidak hanya mengandalkan hafalan, tetapi pemahaman konsep yang dalam, buah dari membaca puluhan buku fisika dari perpustakaan dengan sabar.
Saat pengumuman pemenang, ruangan terasa hening. Kirana menggenggam erat gantungan kunci murahan yang dibelikan ibunya—sebuah gantungan berbentuk bintang kecil.
“Juara pertama, Olimpiade Fisika Tingkat Provinsi Jawa Timur, atas nama Kirana Dewi dari SMA Negeri 3 Kota Dingin!”
Sorakan menggema, tetapi Kirana tidak sempat menikmatinya. Yang pertama ia lakukan adalah meminjam ponsel Pak Budi untuk menelepon ibunya. Ia menangis tersedu-sedu saat mendengar suara ibunya di ujung telepon.
“Bu... Kirana menang, Bu. Kirana juara satu.”
Dari ujung sana, terdengar isak tangis Aminah yang tertahan. “Ibu bangga, Ran. Ibu bangga sekali.”
Jalan Menuju Beasiswa
Kemenangan itu menjadi tiket emas bagi Kirana. Ia diundang mengikuti seleksi nasional untuk mewakili provinsi. Meskipun di tingkat nasional ia hanya meraih perunggu, namanya sudah dikenal oleh beberapa universitas negeri ternama yang membuka jalur undangan bagi pemenang olimpiade.
Kirana melamar beasiswa penuh di salah satu universitas negeri ternama di kota itu melalui jalur prestasi. Ia melampirkan semua sertifikat, rapor dengan nilai sempurna, dan surat rekomendasi dari Pak Budi serta kepala sekolah. Tiga bulan kemudian, surat yang dinanti-nantikan tiba.
“Selamat, Saudari Kirana Dewi, diterima sebagai mahasiswi Program Studi Fisika Fakultas MIPA melalui jalur Beasiswa Prestasi Unggulan (BPU) dengan pembebasan biaya pendidikan penuh dan biaya hidup selama delapan semester.”
Kirana membaca surat itu berulang kali. Tangannya gemetar. Ia berlari ke dapur kecil tempat ibunya sedang menggoreng tahu isi. Tanpa berkata apa-apa, ia menunjukkan surat itu.
Aminah membaca, lalu air matanya jatuh bercucuran. Tangan yang masih memegang sendok penggorengan itu berhenti bergerak. Ia memeluk Kirana erat-erat. Keduanya menangis di dapur kecil yang pengap, di tengah aroma minyak goreng dan asap yang menyesakkan, tetapi hati mereka terasa seluas langit.
Hari Pertama di Kampus
Pagi pertama kuliah, Kirana berdiri di gerbang universitas. Ia mengenakan jaket almamater baru yang dibelikan dari uang tabungan hasil berjualan gorengan. Di sampingnya, Aminah berdiri dengan pakaian terbaiknya—kain batik lama yang masih tersimpan rapi, dipadukan dengan sandal baru yang dibelinya dua hari sebelumnya.
“Bu, foto dulu,” kata Kirana sambil menyodorkan ponsel pinjaman Dinda.
Aminah tersenyum canggung di depan lensa. Wajahnya memang telah dimakan usia, tetapi matanya bersinar bangga.
Setelah foto, Aminah berkata pelan, “Ran, Ibu mau balik. Nanti Ibu harus siap-siap jualan.”
Kirana menggenggam tangan ibunya. “Bu, mulai hari ini, Ibu tidak usah jualan sendirian. Aku sudah punya uang saku dari beasiswa. Nanti malam aku yang akan goreng adonan, Ibu tinggal jualan sebentar. Dan nanti... setelah lulus, Ibu tidak usah jualan lagi.”
Aminah mengusap air matanya. “Ibu nggak butuh yang wah-wah, Ran. Ibu cuma mau lihat kamu sukses. Itu sudah cukup.”
Kirana menggeleng. “Tidak, Bu. Aku tidak hanya akan sukses. Aku akan membawa Ibu terbang tinggi. Setinggi-tingginya.”
Ia menatap langit biru di atas kampus. Langkah mungil dari sebuah bilik di gang sempit telah membawanya ke sini. Dan Kirana tahu, ini baru awal.
Di saku jaketnya, gantungan bintang pemberian ibunya masih setia menemani. Sebuah pengingat bahwa meskipun lahir di tanah yang keras, ia tetap bisa meraih bintang.
Tiga Tahun Kemudian
Di wisuda sarjana, Kirana muncul sebagai lulusan terbaik Fakultas MIPA dengan IPK sempurna. Ia telah menyelesaikan studinya dalam tiga tahun karena mengambil program percepatan. Di bangku penonton, Aminah duduk dengan pakaian batik yang sama—kali ini dipadukan dengan sepatu pantofel baru yang Kirana belikan dari hasil penelitiannya yang didanai kampus.
Saat nama Kirana disebut sebagai wisudawan terbaik, Aminah berdiri. Ia tidak bisa berhenti bertepuk tangan. Wajahnya basah oleh air mata, tetapi senyumnya mengembang lebar.
Kirana, di atas panggung, menoleh ke arah ibunya. Ia tersenyum, matanya berkaca-kaca, dan dengan gerakan kecil yang hanya ia dan ibunya yang mengerti, ia menyentuh saku jas toganya—tempat gantungan bintang itu masih tersimpan.
Di hari itu juga, Kirana menerima surat tawaran beasiswa penuh untuk program magister di luar negeri. Ia menolaknya. Untuk saat ini, ia memilih bekerja sebagai peneliti di lembaga riset nasional. Bukan karena ia takut bermimpi, tetapi karena ia ingin ibunya menikmati hasil perjuangan yang telah ia janjikan sejak malam di bawah lampu minyak dulu.
“Aku akan kuliah S2 nanti, Bu,” katanya suatu sore, sambil menyeruput teh hangat bersama ibunya di teras rumah baru mereka—rumah sederhana namun kokoh, dengan dinding bata yang kuat dan lampu yang tidak pernah padam. “Tapi sekarang, aku mau Ibu menikmati hidup dulu.”
Aminah menggenggam tangan putrinya. “Ibu sudah menikmati hidup, Ran. Sejak kamu lahir, Ibu sudah bahagia. Tapi melihatmu berdiri di sini sekarang... itu lebih dari cukup untuk satu kehidupan.”
Matahari sore menyinari wajah mereka. Kirana menatap langit, lalu tersenyum. Langkah mungilnya ternyata tak hanya membawanya meraih bintang, tetapi juga menuntun ibunya keluar dari gelapnya lorong perjuangan menuju terangnya fajar yang selama ini pantas ia dapatkan.
