Proses Healing di Balik Mendung Pikiran
Terhimpit di Dinding Ekspektasi
Menjadi manusia dewasa terkadang terasa seperti berjalan di antara dinding-dinding ekspektasi yang terus menyempit. Ekspektasi dari keluarga, lingkungan, tempat kerja, hingga ekspektasi dari diri kita sendiri. Ketika semua itu menumpuk, sepi bukan lagi tempat beristirahat, melainkan arena bagi kecemasan untuk bermain.
Kegelisahan itu nyata. Terkadang ia datang begitu kuat hingga kita ingin lari sejauh mungkin sebelum kepala ini terasa meledak. Keringat mengucur, jantung berdebar, dan pikiran berputar kacau tak karuan. Kita ingin berteriak, ingin jujur, namun guntur untuk membuka suara tak pernah datang. Kita memilih menahannya sendiri sampai sesak.
Menjemput Pelangi: Sebuah Usaha Sembuh
Lalu, munculah keinginan untuk "menjemput pelangi di akhir Februari". Akhir Februari bisa jadi simbol dari ujung masa sulit, batas waktu di mana kita berharap badai berlalu. Kita ingin menemukan ujung dari pelangi itu, bukan untuk mendapat potongan emas, melainkan untuk memahami warna-warna yang selama ini justru membuat kita menangis. Menangis karena terlalu lama menahan, menangis karena akhirnya mengerti.
Kita mungkin tidak tahu apakah mencari ujung pelangi itu akan memberikan jawaban dari semua masalah kita. Mungkin itu bukan solusi instan. Tapi satu yang pasti: itu adalah usaha kita untuk sembuh.
Proses healing (penyembuhan) tidak selalu terlihat indah dan teratur. Terkadang, usaha sembuh kita terlihat seperti keinginan untuk "hilang ingatan pada perasaan mengerikan". Kita hanya ingin sakitnya berhenti, kita ingin lepas dari jerat kecemasan yang menggerogoti. Dan wajar jika kita merasakan itu.
Membiarkan Hujan Turun
Jika kamu sedang berada di posisi ini merasa terhimpit, gelisah, dan ingin lari ketahuilah bahwa tidak apa-apa untuk tidak selalu kuat. Tidak apa-apa jika kamu belum bisa jujur pada semua orang. Mulailah dari dirimu sendiri.
Kamu tidak perlu menunggu guntur untuk memaksa mu jujur. Kamu juga tidak perlu menemukan ujung pelangi hari ini. Kadang, usaha untuk sembuh dimulai dari hal yang paling sederhana: mengakui bahwa kamu lelah, dan membiarkan dirimu sendiri menangis untuk merelaskan hujan turun di hatimu.
Mari kita hadapi mendung ini satu langkah pada satu waktu. Pelangi akan datang, dan ketika ia datang, kita tidak perlu lagi menangis karena warna-warninya, melainkan tersenyum karena kita berhasil melewati hujannya.
